Oleh Zaenal Abidin, (FT. Unpas dan pengurus Masjid Al Jabar Bandung)
JABARPASS – Seiring perkembangan zaman, tokoh yang satu ini semakin terkenal terutama di kalangan dunia Islam. Ia seorang pribadi yang unggul, unik, sederhana dan sangat dermawan. Wajar saja jika Allah memanggilnya dengan berbagai macam panggilan yang amat mulia dan melekat pada dirinya. Diantara keterkenalannya itu Adalah sebagai berikut:
Tokoh ilmu pengetahuan dan peradaban.
Imam Ali As-shabuni dalam tafsir Shafwa At-Tafasir, jilid I, h. 384 menjelaskan: bahwa Ibrahim adalah seorang tokoh yang amat peduli terhadap ilmu (hikmah) dan peradaban. Ia orang pertama yang mendapatkan rekomendasi dari Al-Qur’an untuk membangun Ka’bah, sementara Ka’bah adalah rumah ibadah pertama dan utama yang Allah bangun di muka bumi (QS. 3 : 96). “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Gustave Libon (1841-1931) seorang ilmuwan sosial sekaligus dokter asal Perancis dengan jujur mengatakan, “sesungguhnya Ibrahim dan kaum muslimin adalah yang pertama kali mengajarkan bagaimana kemerdekaan berpikir sesuai dengan kelurusan beragama. Bahwasanya pengaruh peradaban kaum muslimin di barat kuat sekali, terutama di bidang ilmu, sastra dan budi pekerti atau akhlak mulia. Kata Syekh Abul ‘Ala Al-Mauludi, Islam Adalah agama yang mengajarkan keseimbangan(balance) antara akal sehat dan ilmu pengetahuan.
Pemimpin dunia
Syeikh Al-Marogi dalam tafsir Al-Maroghi menyebutkan bahwasanya Ibrahim adalah sebagai pemimpin dunia dan bapak peradaban. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah menjadikan Ibrahim sebagai pemimpin dunia karena keteladanan, keimanan, dan keluasan ilmunya yang diakui dunia.
Menurut para ulama merujuk kepada QS. 2 : 124 kepemimpinan Ibrahim melintasi batas kaum tertentu dan menjadi akar dari tiga agama besar (Yahudi, Nasrani dan Islam). Umat Islam meneladani Ibrahim sebagai figur pemimpin yang sangat ideal karena berhasil menyatukan dimensi spiritual, moral dan sosial.
Sebagai Kekasih Allah (Khalilullah).
Ibrahim sebagai pribadi yang memiliki ketabahan hati, keteguhan dan kesabaran dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Syeikh Mutawalli (asal Mesir) mengatakan, Ibrahim beberapa kali menelan pil pahit dari Allah dengan penuh sabar, ridha dan baik sangka (positive thinking). Ibrahim mendapat beberapa ujian dari Allah yang teramat berat (peristiwa pahit) dalam hidupnya namun seluruh titah itu bisa ia selesaikan dengan baik dan sempurna.
Sebagai Akmal Anbiya
Ibrahim diposisikan sebagai Abul Anbiya (Bapak para Nabi) ini didasarkan pada prestasi ibadah-nya, keteladanan tauhid, pengorbanan dan kepiawaiannya dalam memimpin umat. Syeikh Ali Ahmad Al-jurjawi dalam kitab “Hikmatut Tasyrie'” mengatakan; Ibrahim manusia pertama yang melaksanakan khitan, dalam usia yang sangat sepuh 99 tahun, mengkhitan sendiri dengan pisau (alat khitan) yang bernama qudum, yaitu kapak besar yang dibuat dari batu. sementara menurut hadits riwayat Buchari dan Muslim, Ibrahim melakukan khitan sendiri pada usia 80 tahun. Riwayat lain menyebutkan pada usia 120 tahun. Hal ini menunjukkan bukti ketaatan dan ketundukan mutlak beliau kepada Allah Swt.
Sebagai Uswah Hasanah (suri teladan yang baik) (QS. 60 : 4).
Ibrahim menjadi panutan utama umat Islam dengan keteguhan tauhidnya yang murni, keikhlasan dan ketulusannya dalam melaksanakan syariat Allah serta keberaniannya menegakkan kebenaran di tengah-tengah masyarakat kufur konfrontasi langsung, penghancuran berhala, dan penolakan keras terhadap tiran yang mengaku sebagai tuhan, hingga menghadapi hukuman berat dibakar hidup-hidup oleh Namrud dan akhirnya diselamatkan Allah apipun menjadi dingin (QS. Al-Anbiya / 21:69).
“Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”.
Bapak spiritual
Perjalanan spiritual Nabi Ibrahim sangat luar biasa, Ibrahim menolak ajakan ayahnya (‘Azar) agar menyembah berhala, ia pun balik bertanya kepada ayahnya, mengapa ayah beribadah kepada tuhan yang tidak memberikan manfaat dan madarat, ayahnya menjawab, kita ibadah mengikuti tata cara ibadah para leluhur (nenek moyang). Pada bagian lain, Keimanan Nabi Ibrahim telah dibuktikan melalui berbagai ujian seperti bersedia melaksanakan khitan meskipun usianya sudah 99 tahun, bersedia mengorbankan putra semata wayangnya Ismail demi perintah Allah, memohon kepada Allah agar diberikan hikmah, disatukan dengan orang-orang saleh, menjadi teladan bagi keluarganya dengan bertutur kata yang baik serta dapat mewarisi kehidupan yang layak dan Sejahtera sepanjang zaman.***








