Kasus RA, Pakar Psikologi Ingatkan Bahaya Tekanan Emosional dalam Keluarga Sambung

JABAR PASS – Kasus tragis yang menimpa balita berinisial RA (4) masih menjadi sorotan publik. Bocah tersebut meninggal dunia dengan kondisi tubuh penuh luka saat dilarikan ke RSUD Ujungberung, Bandung. Hasil penyelidikan awal polisi mengindikasikan adanya penganiayaan sebelum korban mengembuskan napas terakhir. Ibu tiri korban telah ditetapkan sebagai terduga pelaku dan tengah menjalani pemeriksaan intensif.

Akademisi psikologi, Billy Martasandy, menilai kasus ini tidak cukup dipandang sebagai tindak kriminal semata, melainkan fenomena psikologis yang lebih kompleks. Menurutnya, kekerasan terhadap anak sambung jarang terjadi secara tiba-tiba.

“Ada pola yang sering muncul dalam kasus serupa, yaitu distorsi persepsi terhadap anak sambung. Sebagian pelaku melihat anak sambung bukan sebagai individu yang harus dilindungi, melainkan sebagai ancaman, beban, atau pemicu stres,” ujarnya.

Billy menjelaskan bahwa dinamika keluarga sambung memiliki tantangan tersendiri. Absennya ikatan biologis, kecemburuan terhadap perhatian pasangan, tekanan ekonomi, hingga pengalaman traumatis masa lalu dapat memunculkan ketegangan emosional yang kemudian diproyeksikan kepada anak.

“Orangtua sambung yang tidak siap secara emosional bisa melampiaskan rasa frustrasinya kepada anak. Jika berlangsung terus-menerus tanpa intervensi, kekerasan dapat berkembang secara progresif hingga berujung fatal,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa anak merupakan kelompok paling rentan dalam struktur keluarga, terlebih ketika posisi kuasanya lebih lemah dibanding orang dewasa. Banyak kasus kekerasan terhadap anak berlangsung dalam diam karena terjadi di dalam rumah, sehingga sulit terdeteksi oleh lingkungan sekitar.

Data pendukung pun menunjukkan bahwa fenomena ini bukan kasus yang berdiri sendiri. Laporan nasional mencatat kasus kekerasan terhadap anak dalam keluarga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020 tercatat lebih dari 11.000 kasus, meningkat menjadi lebih dari 18.000 kasus pada 2023. Mayoritas kekerasan (lebih dari separuhnya) terjadi di dalam rumah. Data SIMFONI-PPA terbaru juga menunjukkan bahwa hingga 2025 telah dilaporkan puluhan ribu kasus kekerasan terhadap anak, dengan proporsi besar melibatkan pelaku dari lingkungan keluarga dekat.

Walaupun belum tersedia angka nasional yang secara khusus memetakan kekerasan terhadap anak sambung, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keluarga sambung adalah salah satu model keluarga yang rentan terjadi kekerasan. Anak sambung dapat mengalami penolakan, dianggap sebagai beban, atau diperlakukan berbeda dengan anak kandung.

Dalam konteks kasus RA, Billy menyebut bahwa proses hukum harus berjalan optimal, namun penanganan psikososial keluarga juga tidak boleh diabaikan. Ia mendorong pemerintah dan masyarakat memperkuat langkah pencegahan yang bersifat proaktif, bukan hanya responsif.

“Kita tidak boleh berhenti pada penghukuman pelaku. Pencegahan harus menjadi prioritas. Setiap calon orangtua sambung idealnya mendapatkan edukasi mengenai pola asuh, regulasi emosi, serta potensi dinamika psikologis dalam keluarga non-biologis,” tegasnya.

Ia menutup dengan pengingat bahwa anak tidak pernah bertanggung jawab atas konflik orang dewasa di sekelilingnya. “Keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak. Ketika rumah justru menjadi sumber ancaman, negara dan masyarakat wajib hadir.” pungkasnya

  • Berita Terkait

    Keseruan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ala Warga RT. 01 Maleber Kota Bandung

    JABAR PASS – Keseruan HUT Kemerdekaan RI ke 81 masih terasa hingga tulisan ini diturunkan. Seperti terpantau ketika warga RT 01 RW 03 Maleber Kecamatan Andir Kota Bandung merayakannya. Warga…

    TPSS Gedebage Olah 20 Ton Sampah per Hari, Maggot Reduksi hingga 8 Ton Sampah Organik

    JABAR PASS  – Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS) Gedebage, Kota Bandung, terus mengembangkan pengolahan sampah berbasis sumber dengan memanfaatkan maggot sebagai salah satu metode untuk mengurangi volume sampah organik. Pengelola…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Baca Juga

    Keseruan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ala Warga RT. 01 Maleber Kota Bandung

    • August 23, 2026
    • 79 views
    Keseruan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ala Warga RT. 01 Maleber Kota Bandung

    TPSS Gedebage Olah 20 Ton Sampah per Hari, Maggot Reduksi hingga 8 Ton Sampah Organik

    • August 20, 2026
    • 70 views
    TPSS Gedebage Olah 20 Ton Sampah per Hari, Maggot Reduksi hingga 8 Ton Sampah Organik

    Bandung Bidik 24 Juta Kunjungan Wisatawan hingga Akhir 2026

    • August 20, 2026
    • 46 views
    Bandung Bidik 24 Juta Kunjungan Wisatawan hingga Akhir 2026

    Harga Pangan Nasional Kamis: Cabai Rawit Rp52.750, Telur Ayam Rp22.650 per Kg

    • August 20, 2026
    • 45 views
    Harga Pangan Nasional Kamis: Cabai Rawit Rp52.750, Telur Ayam Rp22.650 per Kg

    Harga Emas Antam Naik Rp80 Ribu, Tembus Rp2,725 Juta per Gram

    • August 20, 2026
    • 44 views
    Harga Emas Antam Naik Rp80 Ribu, Tembus Rp2,725 Juta per Gram

    Insidious Out of The Further, Bersatunya Kekuatan Iblis ke Dunia Nyata Ih Ngeri!

    • August 18, 2026
    • 80 views
    Insidious Out of The Further, Bersatunya Kekuatan Iblis ke Dunia Nyata Ih Ngeri!