Oleh: Yudhi Koesworodjati
JABARPASS – Keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada kemampuan penggiat wisata destinasi wisata dalam menarik wisatawan (daya pikat), tetapi juga pada kemampuannya mempertahankan dan menciptakan loyalitas wisatawan (daya ikat). Strategi daya pikat pariwisata adalah langkah-langkah terencana penggiat wisata untuk meningkatkan nilai jual sebagai magnet utama sebuah destinasi agar mampu menarik perhatian dan minat berkunjung wisatawan secara konsisten.
Daya pikat itu, daya tarik yang muatan pembedanya tinggi, malah mungkin hanya satu-satunya, yang ekstrim misal badak bercula satu di ujungkulon, atau tapir di Sulawesi, orangutan di Kalimantan, komodo di Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain. Bisa juga mirip tapi memiliki beberapa pembeda keunggulan, misal Kebun Binatang Bandung dengan Taman Safari Cisarua.
Sedangkan daya ikat tercipta melalui keramahtamahan (hospitality) yang luar biasa, rasa aman dan nyaman selama berkunjung dan kualitas pelayanan yang melebihi ekspektasi. Dalam manajemen destinasi, daya ikat (stickiness) berkaitan erat dengan kepuasan (satisfaction) dan loyalitas (loyalty). Strategi ini bertujuan untuk memastikan wisatawan merasa nyaman, tinggal lebih lama (longer stay), menghabiskan uang lebih banyak (higher spending) dan memiliki keinginan kuat untuk kembali (repeat visit).
Wisatawan yang mencari daya ikat adalah mereka yang menginginkan kualitas pengalaman dan kenyamanan jangka panjang. Bagi calon wisatawan, mengetahui bahwa sebuah destinasi memiliki daya ikat yang kuat adalah faktor krusial dalam proses pengambilan keputusan. Daya ikat adalah tanda kredibilitas. Daya pikat membuat mereka melirik, tetapi informasi tentang daya ikat (melalui reputasi dan ulasan) adalah hal yang membuat mereka akhirnya memesan tiket (booking).
Daya ikat itu penentunya sangat luas, malah bisa diluar daya pikat, sulit dikontrol namun dapat dikendalikan dengan suatu pemahaman bersama di destinasi. Yaitu dengan memasyarakatkan pariwisata bersamaan dengan mempariwisatakan masyarakat. Trend kekinian yang membuat repetitor kembali datang ke destinasi ternyata bukan hanya daya pikat berupa daya tarik wisatanya saja, namun juga karena faktor ‘perlakuan’ masyarakat di destinasi terhadap wisatawan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.
Ingat peristiwa sepinya Bali saat waktu libur kemarin, diduga karena adanya diskriminasi perlakuan ‘masyarakat pariwisatanya’ terhadap wisatawan nusantara. Akibatnya, bisa dilihat di YouTube gimana sepinya Bali.
Tidak bisa dipungkiri, diskriminasi pun masih terjadi dalam tarif. Sekarang kan ada tarif berbeda? Ada tarif masuk lokal misal 25.000, wisatawan mancanegara 125.000. Lho, koq tidak diatur oleh pemerintah ya? Sementara kalau kita naik Tower Zamzam, atau menara Eiffel tingkat 2, diperlakukan sama dengan orang lokal, bayar sama. Nah, wajar kalau ada pihak yang merasa ‘diperas’, dan bila itu viral di media sosial, hancur sudah. Ini terjadi di beberapa negara tetangga kita. Kita harus sadari, masih banyak ‘moment of truth’ yang harus dibenahi agar daya ikat menguat.
Pariwisata itu bersifat ‘human’, orang ketemu orang, melayani orang, bicara dengan orang, yang mempunyai rasa dan hati. Yang membuat daya ikat Indonesia secara umum kuat, adalah ‘human touch’.
Kita bisa buka kanal YouTube dimana seorang wisatawan mancanegara yang menjelajahi Indonesia dari Batam sampai Papua. Dia menuturkan bahwa Bandung the best, istimewa. Masyarakatnya friendly, senyum, hangat, ramah membantu/ menolong/ memberi dalam kesederhanaannya. Bisa juga lihat kesan umum wisatawan mancanegara di YouTube, kenapa sampai menangis tidak mau pulang. Banyak yang harus pulang karena masalah visa, kumpul uang lagi, dan kembali ke Indonesia. Itulah pentingnya mempariwisatakan masyarakat sebelum memasyarakatkan pariwisata, atau dijalankan simultan.
Jika diamati, uang rupiah yang beredar akan banyak menyentuh masyarakat dan usaha kecil, sementara valuta asing akan beredar di strata masyarakat yang lebih tinggi, malah mungkin kembali ke negeri asalnya. Oleh karena itu keamanan (fisik dan psikologis) dan kenyamanan wisatawan menjadi penting. Ya, pada akhirnya kembali ke Sapta Pesona yang dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat di destinasi.
Maka penting kiranya untuk memelihara citra, yang merupakan produk kolektif seluruh masyarakat di destinasi, diseluruh lini, sektor dan strata masyarakat, serta kebijakan dari pemerintah yang cerdas dalam memahami seluruh fenomena kepariwisataan kekinian dan yang akan datang.
Hanya perlu ‘beberes’ dari segi kebijakan pemerintah (misalnya dengan jelas menyatakan bahwa pariwisata menjadi sektor utama penggerak kesejahteraan masyarakat atau lebih jelas lagi dinyatakan dalam visi-misi kota). Selanjutnya diiringi dengan program dan kegiatan yang signifikan, misal penataan kota, kebersihan kota, pemeliharaan jalan – marka – petunjuk jalan – penerangan jalan, keamanan, penanganan sampah, informasi digital yang presisi, hotline untuk wisatawan, bimbingan dan penyuluhan masyarakat, pengembangan masyarakat sadar wisata, penanganan limbah-limbah, penyelenggaraan event-event, dan lainnya.
Dengan meningkatkan daya pikat dan daya ikat akan menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor yang dapat menjadi lokomotif penghela berjalannya roda ekonomi, bangkitnya semangat dan harapan masyarakat untuk lebih sejahtera, tanpa harus menanam investasi besar.
(Yudhi Koesworodjati, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan dan Pemerhati Pariwisata)***








