JABAR PASS Apakah Parents pernah mengalami anak susah diajak ke dokter gigi? Belum berangkat sudah ngambek, atau malah orang tuanya sendiri yang tidak tega karena takut anak stres mendengar suara alat pemeriksaan?
Rasa takut seperti ini bisa muncul karena anak menganggap kunjungan ke dokter gigi sebagai hal yang mengancam atau bahkan traumatis. Tapi, kok bisa sih anak sampai trauma ke dokter gigi?
Menurut drg. Angelica Isadora Jonathan, M.DSc., Sp.KGA, Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak dari AUDY Dental, salah satu penyebab utamanya adalah kebiasaan orang tua yang membawa anak ke dokter gigi saat gigi sudah terlanjur sakit.
“Sering kali anak datang dalam kondisi gigi yang sudah parah dan butuh penanganan intensif. Belum lagi, masih ada anggapan bahwa karena giginya masih gigi susu, jadi tidak masalah kalau dibiarkan sakit. Padahal itu bisa sangat berbahaya,” jelas drg. Angelica.
Berdasarkan data Riskesdas 2018, hanya 11,2% masyarakat Indonesia yang memeriksakan diri ke dokter saat mengalami masalah gigi dan mulut. Artinya, kesadaran masih sangat rendah. Lalu, bagaimana solusinya?
Orang Tua yang ‘Biasa’ ke Dokter Gigi, Anak pun Akan Lebih Tenang
Tak hanya anak-anak, banyak orang dewasa juga takut ke dokter gigi. Namun, penting untuk diingat: dokter gigi ada untuk membantu, bukan menakut-nakuti.
Pencegahan sejak dini dimulai dari orang tua. Misalnya, edukasi sejak masa kehamilan mengenai pentingnya asupan bergizi demi pertumbuhan gigi anak dalam kandungan. Setelah anak lahir dan mulai tumbuh gigi, sebaiknya langsung dibawa ke dokter gigi spesialis anak (Sp.KGA) untuk pemeriksaan rutin.
drg. Angelica menambahkan bahwa keberhasilan menjaga kesehatan gigi anak sangat dipengaruhi oleh konsistensi orang tua dalam berkonsultasi dan mengikuti tahapan perawatan sesuai usia anak.
“Salah satu hal yang sering saya ingatkan ke orang tua adalah menghentikan kebiasaan memberi susu saat anak akan tidur. Mulut yang tidak bersih saat tidur meningkatkan risiko karies dan gigi berlubang,” katanya.







