Yudhi Koesworodjati
JABARPASS – Dalam era yang semakin peduli terhadap lingkungan, penggiat wisata dituntut untuk tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak bisnis mereka terhadap alam.
Wisatawan modern semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan cenderung memilih produk wisata yang memiliki komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
Lingkungan di destinasi, yang mungkin hanya dikira menjadi daya tarik sekunder, atau malah hanya sebagai daya tarik pendukung yang dianggap kecil, ternyata bisa ‘membunuh’.. tourism destroy tourism.
Lingkungan dapat mematikan perkembangan dan pertumbuhan pariwisatanya. Ada yang lingkungannya kotor, ada yang mengolah makanannya jorok, ada yang tidak ramah dan lain-lain, yang menghambat kunjungan wisatawan, boro-boro mau kembali satu kali saja kapok. Apalagi di era informasi digital, mudah sekali mendapat info yang baik atau yang buruk.
Kesadaran wisatawan terhadap dampak ekologis semakin meningkat, mendorong penggiat wisata untuk menerapkan strategi yang lebih ramah lingkungan.
Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mengedepankan aspek keberlanjutan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat (community quality of life).
Alternatif yang diperlukan untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi (pariwisata) dengan lingkungan adalah konsep berkelanjutan (sustainable development). Brundtland mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.
Secara garis besar, indikator yang dapat dijabarkan dari karakteristik berkelanjutan antara lain adalah lingkungan. Artinya industri pariwisata harus peka terhadap kerusakan lingkungan, misalnya pencemaran limbah, sampah yang bertumpuk, dan kerusakan pemandangan yang diakibatkan pembalakan hutan, gedung yang letak dan arsitekturnya tidak sesuai, serta sikap penduduk yang tidak ramah.
Dengan kata lain aspek lingkungan lebih menekankan pada kelestarian ekosistem dan biodiversiti, pengelolaan limbah, penggunaan lahan, konservasi sumber daya air, proteksi atmosfer, dan minimalisasi kebisingan dan gangguan visual.
Lembaran data menunjukkan bahwa sesungguhnya masalah lingkungan hidup lebih banyak dipengaruhi oleh perjalanan manusia, lewat pariwisata, yang kemungkinan besar akan menambah pencemaran lingkungan hidup. Apalagi pariwisata sebagai industri sedang digalakkan itu berarti berbagai proyek fisik akan dibangun.
Penelitian yang dilakukan oleh Lenzen et al. yang dimuat dalam jurnal Nature Climate Change memperkirakan sektor pariwisata menyumbang sekitar 8% dari total emisi karbon global.
Kita pun sering kali melihat sebuah objek wisata yang lingkungan disekitarnya semakin memburuk namun tetap saja ramai dikunjungi ribuan pengunjung. Bagi pengelola kepariwisataan hanya ada dua atternatif yang harus dipilih mana yang lebih penting kepuasan pengunjung atau terganggunya atau rusaknya lingkungan.
Menurut pendapat beberapa pakar pariwisata alternatif pemecahannya adalah dengan jalan mendidik masyarakat merupakan jalan terbaik guna menanggulangi kerusakan lingkungan di daerah wisata.
Di sini kepariwisataan terkait hubung dan bersimbiosis dengan lingkungan hidup dan konservasi budaya. Di satu sisi hubungan simbiosis dapat bersifat negatif seperti perusakan, pencemaran lingkungan, polusi budaya, komersialisasi, komodifikasi seni budaya, pendangkalan kreasi serta mutu seni.
Di sisi lain kepariwisataan yang direncanakan secara matang justru akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Pariwisata berkelanjutan menurut UNWTO adalah pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat setempat dan dapat diaplikasikan ke semua bentuk aktivitas pariwisata di semua jenis destinasi wisata, termasuk wisata masal dan berbagai jenis kegiatan wisata lainnya.
Terdapat empat pilar kriteria destinasi pariwisata berkelanjutan, yaitu: pengelolaan berkelanjutan, keberlanjutan budaya, keberlanjutan sosial-ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, yang secara holistik harus diterapkan.
Selain lingkungan, sosial budaya pun menjadi aspek yang penting diperhatikan. Rusaknya lingkungan alam mengakibatkan rusaknya lingkungan budaya dan lain-lain. Interaksi dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi menyebabkan persentuhan antar budaya yang juga semakin intensif.
Pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang memberi kontribusi persentuhan budaya dan antar etnik serta antarbangsa. Oleh karenanya penekanan dalam sosial budaya lebih kepada ketahanan budaya, integrasi sosial, kepuasan penduduk lokal, keamanan dan keselamatan, kesehatan publik.
Dengan demikian prinsip dasar pariwisata berkelanjutan adalah semakin kita melestarikan maka kita akan semakin mensejahterakan (to preserve to proper). Kiranya lebih baik margin kecil tetapi lingkungan sustained daripada margin besar tapi lingkungan kita rusak semua bahkan terjadi perubahan budaya masyarakat setempat. Inilah salah satu alasan banyak destinasi wisata di dunia yang seakan “menutup diri” dari kedatangan turis yang berlebihan hingga irresponsible tourist.
Pengembangan pariwisata berkelanjutan menghendaki partisipasi semua pihak yang berperan di dalamnya dan juga kepemimpinan politik yang keras dari pemerintah untuk memastikan cakupannya dalan skala yang lebih luas dan diperlukan guna pembentukan konsensus.
Untuk mencapainya tentu saja diperlukan usaha yang terus menerus, namun pada akhirnya akan membawa manfaat yang baik terhadap kepuasan tamu/turis/wisatawan dengan menyajikan pengalaman yang berarti. Di samping itu meningkatkan kesadaran mereka tentang sesuatu yang berkelanjutan dan mempromosikan praktek-praktek pariwisata berkelanjutan diantara mereka.
Tampak banyak pemangku kepentingan yang bicara “berkelanjutan” tapi tidak tahu harus berbuat apa. Dan akhirnya memang jawabannya adalah harus mempariwisatakan masyarakat dengan Sapta Pesona terlebih dahulu, sebelum memasyarakatkan pariwisata, dengan pendekatan manfaat untuk kita bersama.
(Yudhi Koesworodjati, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan dan Pemerhati Pariwisata)***










