JABAR PASS – Pemerintah Kota Bandung menerima kunjungan Delegasi Duta Besar dan Wakil Tetap PBB dalam rangka Diplomatic Tour 2025, Selasa, 21 Oktober 2025, di Pendopo Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyambut hangat para diplomat dari berbagai negara dan menyebut kunjungan ini sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas antarbangsa yang pernah lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955.
“Bandung adalah rumah dari semangat solidaritas, persahabatan, dan kerja sama. Sejak 1955, kota ini mewarisi budaya berdialog, bukan berperang,” ujar Farhan.
Ia menekankan bahwa Bandung memiliki identitas unik dalam sejarah bangsa. Berbeda dengan banyak daerah lain yang dikenal melalui perjuangan bersenjata, Bandung justru melahirkan pemikir dan negarawan seperti Otto Iskandardinata dan H. Djuanda—tokoh penting dalam pengakuan konsep Negara Kepulauan (Archipelagic State) di dunia internasional.
Farhan juga mengajak para delegasi merasakan suasana khas Kota Bandung yang dikenal ramah, tenang, dan romantis, bahkan saat hujan. “Bandung adalah rumah kedua yang menenangkan,” tambahnya.
Kunjungan ini merupakan bagian dari inisiatif Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York. Deputi Wakil Tetap RI untuk PBB sekaligus Duta Besar designate untuk Kerajaan Thailand, Heri Prabowo, menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemkot Bandung.
“Program ini tidak hanya memperlihatkan kehidupan masyarakat Indonesia, tetapi juga mempererat hubungan antarnegara serta membuka ruang kerja sama baru,” ungkap Heri.
Ia menambahkan, Bandung memiliki makna historis mendalam bagi komunitas diplomatik dunia. Semangat KAA 1955 menjadi inspirasi bagi gerakan dekolonisasi global dan turut melatarbelakangi berdirinya Komite Khusus Dekolonisasi di PBB.
Selama kunjungan di Jawa Barat, para delegasi juga menyambangi berbagai institusi strategis seperti PT Pindad, Bio Farma, Saung Angklung Udjo, serta Museum Konferensi Asia Afrika.
Menurut Heri, kunjungan ini tidak hanya berdampak secara praktis dalam membuka peluang kerja sama, tetapi juga sarat nilai simbolis dan politis, khususnya bagi negara-negara yang pernah mengalami penjajahan.









