JABAR PASS – Kota Bandung terus menegaskan posisinya sebagai kota seni dan kreativitas yang memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi. Sepanjang tahun 2025, tercatat hampir 20 juta wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia berkunjung ke Kota Bandung, terdorong oleh ragam kegiatan seni, seminar, forum ilmiah, hingga ajang olahraga yang digelar sepanjang tahun.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat memberikan sambutan dalam acara Drama Musical Gebyar Santa Angela yang digelar dalam rangka peringatan Hari Raya Santa Angela sekaligus HUT ke-120 Santa Angela Bandung di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Sabtu (24/1/2026).
“Berbagai event ini membuat roda perekonomian Kota Bandung bergerak cepat. Kita berharap laporan Badan Pusat Statistik (BPS) segera keluar dengan kabar baik, mulai dari penurunan angka kemiskinan, turunnya tingkat pengangguran terbuka, hingga pertumbuhan ekonomi yang mampu menembus di atas lima persen,” ujar Farhan.
Ia menjelaskan, meski secara persentase terlihat kecil, pertumbuhan ekonomi tersebut akan memberikan dampak signifikan jika dikalikan dengan nilai ekonomi Kota Bandung yang mencapai ratusan triliun rupiah.
Farhan menegaskan, pengangkatan isu ekonomi dalam acara pertunjukan seni bukan tanpa alasan. Menurutnya, identitas Bandung sebagai kota seni menjadi magnet utama yang menarik jutaan wisatawan.
“Orang datang ke Bandung untuk merasakan suasana seninya, vibe seninya,” katanya.
Ia menyebutkan dua faktor utama yang membentuk daya tarik tersebut. Pertama, kondisi alam Bandung yang sejuk dan nyaman, sehingga mendukung berbagai aktivitas masyarakat dan wisatawan.
“Udara Bandung membuat orang betah, apalagi dengan hujan dan angin sepoi-sepoi seperti sekarang,” ucapnya.
Faktor kedua adalah kekuatan seni dan kreativitas warga Bandung yang tumbuh dari nilai keberagaman.
“Kreativitas tumbuh karena kita menjaga cinta terhadap bumi, kemanusiaan, dan keanekaragaman. Di Bandung tidak boleh ada keseragaman, yang ada adalah keberagaman,” tuturnya.
Menurut Farhan, keberagaman inilah yang memicu keberanian berekspresi serta melahirkan kreativitas masyarakat secara alami dan organik.
Ia juga menekankan pentingnya keberadaan ruang-ruang ekspresi, terutama panggung seni, sebagai sarana awal bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi.
Farhan turut berbagi pengalaman pribadinya yang sejak kecil telah akrab dengan dunia seni hingga membentuk perjalanan hidupnya.
“Di tengah kesibukan, saya tetap memaksakan hadir di sini, karena seni adalah bagian dari hidup dan identitas Kota Bandung,” pungkasnya. (kyy)








