Oleh: Yudhi Koesworodjati
JABAR PASS – Dukungan investasi yang memadai dan andal diperlukan untuk pengelolaan destinasi yang berkelanjutan.
Investasi yang signifikan diperlukan untuk mengurangi dampak lingkungan dari pariwisata, memungkinkan destinasi dan bisnis pariwisata untuk mengikuti perkembangan teknologi yang pesat, dan untuk mengembangkan infrastruktur dan mekanisme yang dibutuhkan untuk mengelola pengembangan pariwisata dengan lebih baik. Mendorong investasi pariwisata adalah tentang menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor ini secara berkelanjutan.
Kehadiran multifinancing investasi merupakan kondisi mutlak kekinian untuk bisa mengangkat dan menjual lebih jauh lagi branding destinasi wisata yang sudah memiliki international dan national significant value untuk membuat inovasi-inovasi amenitas dan aksesibilitas yang berbasis nilai lokal dalam mendukung konten atraksi wisatanya yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dibandingkan destinasi wisata lain, baik di dalam maupun di luar negeri.
Mempertahankan portofolio pariwisata yang beragam membutuhkan inovasi, adaptasi, dan investasi berkelanjutan dalam pengalaman dan infrastruktur baru, dan pendekatan strategis yang mempertimbangkan semua aspek penawaran pariwisata diperlukan untuk mendiversifikasi ekosistem pariwisata.
Destinasi dapat memilih beberapa strategi, termasuk: (1) Menargetkan campuran pengunjung yang beragam untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada satu pasar sumber atau segmen pasar.
(2) Berinvestasi dalam penawaran produk yang unik dan beragam, yang menarik bagi berbagai segmen. (3) Untuk mengelola arus wisatawan dengan lebih baik.
Investasi yang komprehensif meliputi lokasi proyek potensial, aspek keuangan, aspek hukum dan administratif, aspek ekonomi sosial lingkungan, aspek teknis, hingga manajemen risiko, yang dampak lanjutannya akan semakin memperkuat jumlah ataupun investasi yang masuk maka diharapkan dapat mempersingkat perwujudan “Destinasi Pariwisata Yang Berkelas, Berkualitas, dan Berkelanjutan” secara konkret.
Hakikatnya mendorong investasi pariwisata adalah langkah strategis yang dapat memperkuat sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi nasional dan daerah.
Investasi pariwisata penting untuk didorong mengingat sektor ini merupakan sumber devisa, penciptaan lapangan kerja, peningkatan infrastruktur, pengembangan daerah dan diversifikasi ekonomi: mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor lain seperti pertambangan atau pertanian.
Strategi yang masih mungkin untuk dilakukan dalam memacu investasi pariwisata adalah peningkatan promosi destinasi (kampanye internasional dan nasional, peningkatan branding destinasi unggulan dan mendorong kerja sama dengan travel agent global dan platform digital), penyederhanaan regulasi (mempermudah izin usaha sektor pariwisata dan harmonisasi peraturan pusat dan daerah), insentif untuk investor (keringanan pajak/ tax holiday/ tax allowance, bantuan pembebasan lahan dan skema pembiayaan kreatif), pengembangan infrastruktur penunjang (aksesibilitas jalan, pelabuhan, bandara, konektivitas digital di destinasi wisata dan infrastruktur air bersih, listrik, dan sanitasi), kolaborasi pemerintah dan swasta (kerja sama pemanfaatan lahan atau pengelolaan kawasan wisata dan penetapan kawasan ekonomi khusus pariwisata), dan pemberdayaan masyarakat lokal (pelatihan SDM pariwisata dan dukungan UMKM lokal).
Ada pengalaman yang kurang pas sekembali dari salah satu destinasi di Lombok. Banyak investasi besar yang baru di bidang sarana pariwisata seperti hotel, resto, cafe, souvenir shop dan lain-lain. Siapa yang punya? Ternyata tidak jauh seperti Bali, yang punya ya banyak orang asing dengan memakai nama orang lokal.
Di satu destinasi wisata tampak sangat riuh dengan wisatawan asing, modal ada, produk ada, tapi tidak ada uang yang beredar…..kemana itu uangnya? Ya ke negara asing, Australia, Jerman, Swedia dan lain-lain. Sangat miris kondisi masyarakat kecilnya. Jualan kecil-kecilan, setengah mengemis dan maksa supaya jualannya dibeli. Ke kami itu secara verbal bilang, pa jangan lihat barangnya dan harganya, tapi tolong bantu kami. Sedih sekali. Terasa kebijakan investasi yang kurang pas, destinasi wisatanya memang hebat, mega investasi, tapi tidak berdampak kepada masyarakat sekitar.
Kiranya banyak hal yang harus dibereskan. Pertama, visi dan misi fasilitator harus tegas, jelas dan konsisten. Kedua, dijalankan dengan benar oleh orang-orang teknis yang mumpuni. Ketiga, masyarakat terlibat. Keempat, entrepreneurial pengusaha harus profesional juga.
Destinasi wisata kita boleh bagus, boleh punya potensi yang luar biasa, tapi kalau stakeholder yang berkepentingan di dalamnya dianggap tidak akan mampu menjalankannya, maka investor tidak akan ada yang mau ber-partner dengan kita. Untuk mendapatkan partner dan investor maka faktor stakeholder yang terlibat akan menjadi sangat dominan dalam penilaian calon investor.
Dengan simbiose kolaborasi proses oleh empat unsur tadi, pemerintah, masyarakat, pengusaha dan sumber keuangan diharapkan dapat diterjemahkan dalam sebuah perencanaan ekosistem investasi pariwisata yang kondusif yang menarik minat investor untuk memacu tumbuh dan berkembangnya pariwisata.
(Penulis, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan dan Pemerhati Pariwisata).









