BASIS KETAHANAN PARIWISATA

Oleh: Yudhi Koesworodjati

 

JABARPASS – Pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan selama enam dekade telah menyebabkan keyakinan luas akan ketahanan inheren ekonomi pariwisata. Namun, guncangan global berturut-turut telah menunjukkan pentingnya membangun ketahanan sistemik di seluruh ekosistem pariwisata.

Ketahanan mengacu pada kapasitas untuk menyerap gangguan, pulih dari gangguan, dan beradaptasi dengan kondisi yang berubah sambil mempertahankan fungsi yang pada dasarnya sama seperti sebelum guncangan. Ini melampaui manajemen risiko dan menyangkut kinerja sistem ekonomi setelah ancaman terwujud (Hynes et al.). Ini dicirikan oleh kecepatan dan kekuatan pemulihan, khususnya melalui adaptasi dan transformasi.

Ketahanan pariwisata bukan hanya soal fisik dan ekonomi, tetapi juga soal bagaimana destinasi dipersepsikan oleh wisatawan. Pariwisata bukan hanya soal destinasi, tetapi juga tentang rasa nyaman, aman, dan pengalaman emosional. Dalam sektor pariwisata, ketahanan ini menjadi fondasi penting karena industri pariwisata sangat dipengaruhi oleh persepsi, rasa aman, dan kepercayaan.

Persepsi wisatawan adalah cara wisatawan menilai, merasakan, dan memaknai suatu destinasi, baik dari segi keamanan, kenyamanan, kualitas layanan, harga, kebersihan, hingga citra budaya. Dalam konteks ketahanan pariwisata, persepsi menjadi faktor kunci karena keputusan berkunjung sangat dipengaruhi oleh apa yang diyakini wisatawan, bukan hanya oleh kondisi objektif destinasi.

Persepsi wisatawan merupakan fondasi psikologis dan strategis dalam ketahanan pariwisata. Destinasi yang mampu menjaga citra positif, mengelola komunikasi krisis, serta memberikan pengalaman berkualitas akan lebih tangguh menghadapi guncangan.

Setiap anggal 17 Februari, dunia merayakan Hari Ketahanan Pariwisata Global, yang ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun jujur diakui kondisi faktual menunjukkan ketahanan adalah topik yang kurang dikembangkan dalam pariwisata. Pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan selama enam dekade telah menyebabkan keyakinan luas akan ketahanan inheren ekonomi pariwisata. Isu prioritas untuk memperkuat pertumbuhan destinasi pariwisata yang stabil selama beberapa dekade telah menyebabkan keyakinan luas akan ketahanan pariwisata yang melekat.

Tindakan ketahanan saat ini dalam pariwisata umumnya selaras dengan konsep manajemen krisis dan keberlanjutan, dan pengukurannya berfokus pada pemulihan. Secara individual, komponen-komponen ini membantu membangun ketahanan dalam ekosistem pariwisata – dan memungkinkan sektor ini untuk beradaptasi dan merespons dalam menghadapi krisis – yang didukung fokus sistemik yang berwawasan ke depan yang dibutuhkan untuk mendorong ketahanan.

Ada banyak faktor yang membuat destinasi bertahan bahkan unggul dalam jangka panjang. Tapi dapat kita bagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal ada beberapa misalnya banyaknya waktu luang di pasar pariwisata, kekuatan ekonomi, infrastruktur perhubungan, keamanan internalnya dan keamanan wilayah, informasi yang akurat tentang destinasi. Sederhananya, dari sisi pasar, mereka tak akan wisata ke destinasi kalau tidak ada informasi bahwa suatu destinasi menarik perhatiannya, tak punya waktu, tak punya uang, dan tidak aman.

Sementara faktor internal di destinasi setidaknya beberapa faktor utama yang ditentukan oleh ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan budaya, ketahanan lingkungan, ketahanan infrastruktur dan teknologi dan kebijakan dan tata kelola. Belum lagi keamanan, kekhasan yang menjadi pembeda, juga fasilitas infrastruktur, dan segala hal yang telah ditulis, yang memposisikan destinasi menarik untuk dikunjungi bahkan berulang dikunjungi.

Faktor internal ini berkaitan erat dengan ketahanan psikologis yang merupakan fondasi tak kasat mata dalam ketahanan pariwisata. Infrastruktur bisa dibangun kembali, ekonomi bisa dipulihkan, tetapi tanpa kepercayaan dan stabilitas mental masyarakat serta wisatawan, pariwisata sulit bangkit sepenuhnya.

Banyak faktor yang bisa dielaborasi misalnya mengapa wisatawan tidak ingin berkunjung lagi ke sebuah negara tertentu dan mungkin masih banyak destinasi lain. Mereka punya diferensiasi? Ya, mereka punya. Tapi ada penghambat dari masalah kecil seperti transportasi, sikap masyarakat, keamanan, dan lain-lain.

Basis ketahanan pariwisata merujuk pada fondasi atau landasan yang membuat sektor pariwisata mampu bertahan, pulih dan beradaptasi terhadap berbagai tantangan atau krisis. Ketahanan pariwisata mencakup kemampuan untuk mengantisipasi, mempersiapkan, dan menanggapi gangguan secara efektif. Kemampuan ini sangat penting untuk memastikan kelangsungan dan keberlanjutan jangka panjang destinasi pariwisata dan usaha kecil dan menengah (UKM) terkait.

Untuk meningkatkan ketahanan, destinasi perlu mengubah praktik manajemen, meningkatkan infrastruktur, melibatkan masyarakat, dan mempromosikan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan. Tindakan-tindakan ini membantu destinasi untuk bertahan dan pulih dari tantangan, memastikan destinasi tetap menarik dan berfungsi bagi pengunjung dan penduduk.

Menyeimbangkan kembali pariwisata, menemukan cara untuk mendistribusikan arus pengunjung dalam waktu dan ruang, dan menghindari ketergantungan berlebihan pada sektor ini merupakan prioritas utama saat destinasi memikirkan kembali kesuksesan pariwisata, dengan fokus yang lebih besar pada tujuan lingkungan dan kesejahteraan. Destinasi pariwisata dengan basis ketahanan yang kuat siap untuk berkembang dimasa perubahan dan berkontribusi pada sektor pariwisata yang tangguh. Hal ini dapat meningkatkan stabilitas ekonomi lokal, meningkatkan kualitas hidup di suatu tempat, dan menciptakan peluang untuk pembangunan sosial-ekonomi bagi masyarakat.

(Yudhi Koesworodjati, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan dan Pemerhati Pariwisata).

  • Berita Terkait

    MEMACU INVESTASI PARIWISATA

    Oleh: Yudhi Koesworodjati   JABAR PASS – Dukungan investasi yang memadai dan andal diperlukan untuk pengelolaan destinasi yang berkelanjutan. Investasi yang signifikan diperlukan untuk mengurangi dampak lingkungan dari pariwisata, memungkinkan…

    DAYA PIKAT DAN IKAT PARIWISATA

    Oleh: Yudhi Koesworodjati   JABARPASS – Keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada kemampuan penggiat wisata destinasi wisata dalam menarik wisatawan (daya pikat), tetapi juga pada kemampuannya mempertahankan dan menciptakan…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Baca Juga

    MEMACU INVESTASI PARIWISATA

    • May 11, 2026
    • 16 views
    MEMACU INVESTASI PARIWISATA

    Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp61.150 per Kg, Telur Ayam Rp30.850

    • May 11, 2026
    • 11 views
    Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp61.150 per Kg, Telur Ayam Rp30.850

    Pemkot Bandung Kerahkan 184 Petugas, Pastikan Hewan Kurban Sehat hingga Hari Tasyrik

    • May 11, 2026
    • 13 views
    Pemkot Bandung Kerahkan 184 Petugas, Pastikan Hewan Kurban Sehat hingga Hari Tasyrik

    KKP Buka Rekrutmen Awak Kapal Perikanan 2026, Simak Posisi, Syarat, dan Jadwal Lengkapnya

    • May 11, 2026
    • 12 views
    KKP Buka Rekrutmen Awak Kapal Perikanan 2026, Simak Posisi, Syarat, dan Jadwal Lengkapnya

    Harga BBM Nonsubsidi Naik, Shell V-Power Diesel Rp30.890 per Liter Jadi Sorotan

    • May 11, 2026
    • 11 views
    Harga BBM Nonsubsidi Naik, Shell V-Power Diesel Rp30.890 per Liter Jadi Sorotan

    DKPP Kota Bandung Siapkan Sejumlah Langkah Strategis untuk Entaskan Kemiskinan

    • May 11, 2026
    • 20 views
    DKPP Kota Bandung Siapkan Sejumlah Langkah Strategis untuk Entaskan Kemiskinan