Oleh: Yudhi Koesworodjati
JABARPASS – Ketersedian moda angkutan dan jejaring merupakan salah satu pull factor (faktor penarik) wisatawan ke destinasi. Ketersediaan aksesibilitas dalam pariwisata menyediakan panduan tentang berbagai tempat wisata.
Aksesibilitas juga menyediakan waktu dan jarak perjalanan yang tepat dari berbagai tempat, memberikan ide rute perjalanan yang berbeda, memilih objek wisata dan fasilitas pendukung di sepanjang rute perjalanan yang berbeda dan menginformasikan calon wisatawan tentang rute perjalanan alternatif.
Isu aksesibilitas adalah salah satu dari persoalan infrastruktur kepariwisataan dalam konteks pengembangan kepariwisataan.
Keputusan mengenai lokasi wisata yang akan digunakan melibatkan pertimbangan bagaimana penyerahan jasa wisata kepada wisatawan nusantara dan dimana itu akan berlangsung.
Faktor aksesibilitas menjadi sedemikian signifikan ketika diperoleh kenyataan bahwa target kunjungan sebuah destinasi wisata belum tercapai.
Pariwisata berarti berada di tempat lain dan, sebagai konsekuensinya, hubungan antara transportasi dan pengembangan pariwisata secara tradisional dianggap sebagai ‘ayam dan telur’.
Infrastruktur transportasi yang memadai dan akses ke pasar yang menghasilkan merupakan salah satu prasyarat terpenting untuk pengembangan destinasi mana pun.
Infrastruktur transportasi yang memadai dan akses ke pasar yang menghasilkan merupakan salah satu prasyarat terpenting untuk pengembangan destinasi mana pun.
Dalam kebanyakan kasus, pariwisata telah dikembangkan di daerah-daerah yang memiliki jaringan transportasi yang luas dan potensi untuk pengembangan lebih lanjut tersedia.
Jika kita mengartikan produk wisata, dalam arti yang paling luas, sebagai segala sesuatu yang dikonsumsi pengunjung tidak hanya di tempat tujuan tetapi juga dalam perjalanan ke dan dari tempat tujuan, maka transportasi menyediakan beberapa elemen kunci dari produk tersebut.Ketersediaan variasi moda transportasi yang dapat dipilih wisatawan nusantara menuju objek wisata relatif bervariasi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa banyak objek wisata potensial belum dapat dinikmati karena minimnya transportasi untuk mencapainya.
Kelemahan sektor perangkutan menyebabkan tidak semua destinasi pariwisata yang ada di tanah air dapat mudah dikunjungi. Adalah tugas Pemerintah untuk meminimalisir isu sulitnya aksesibilitas objek wisata yang ada.
Tampak masih banyaknya kondisi jalan menuju objek wisata, terutama wisata hutan terlalu sempit. Lebar jalan yang hanya enam meter kurang cukup menampung lebar dua bus besar. Jika naik bus, saat berpapasan dengan kendaraan lain harus hati-hati kalau tidak bisa berbahaya. Selain itu banyaknya lubang membuat perjalanan menuju puncak (kawah) menjadi tidak nyaman.
Badan wisatawan yang berkunjung terasa sakit-sakit begitu sampai tempat wisata, sehingga mereka harus beristirahat terlebih dahulu dan tidak bisa langsung menikmati indahnya alam.
Bagi wisatawan nusantara minat khusus, khususnya petualangan, maka kualitas akses menuju lokasi diukur dari ketersediaan jalan, sekalipun dengan kualitas jalan setapak. Sedangkan bagi wisatawan nusantara kelompok lainnya (misalnya psikosentris) menghendaki jalan menuju lokasi harus berkualitas.
Salah satu langkah yang masih memungkinkan untuk diprioritaskan berkenaan dengan peningkatan kondisi fisik, penerangan jalan dan sarana menuju objek wisata adalah diperlukannya kebijakan Pemerintah dan langkah teknis dari instansi terkait, pihak swasta serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas, kuantitas sarana dan prasarana menuju objek wisata untuk mendukung aktivitas wisata dan mengoptimalkan pengalaman berwisata, sesuai fungsi dan peruntukkan tata guna lahan dengan mempertahankan kelestarian dan daya dukung lingkungan alam, sosial budaya dan ekonomi.
Pengembangan sarana dan prasarana fisik menuju destinasi wisata harus mendukung dan memberi kesempatan untuk membentuk produk wisata serta pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan wisatawan.
Masyarakat pun dituntut untuk berpartisipasi dalam mendukung program pemerintah kota dan kabupaten yang melibatkan partisipasi masyarakat setempat dengan menjaga sarana dan prasarana menuju destinasi wisata.
Permintaan pariwisata telah mendorong pesatnya perkembangan transportasi. Karena jutaan wisatawan berharap untuk diangkut dengan aman, cepat dan nyaman ke tempat tujuan mereka dengan biaya yang wajar.
Industri transportasi harus menyesuaikan diri untuk mengakomodasi permintaan yang meningkat dan juga lebih canggih ini.
Pemandangan dari bus atau kegembiraan terbang merupakan contoh manfaat perjalanan. Namun, bagi pelancong bisnis, transportasi dapat dianggap sebagai kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Untuk wisatawan yang menggunakan transportasi umum dan atau bawa kendaraan sendiri maka mereka harus mendapat informasi cara termudah mencapai obyek, info ketersediaan pilihan moda angkutan dan tarif, titik jemput, pengaturan pengawasan kualitas standar moda angkutan, info penyerta (hotel, bengkel, SPBU dan lain-lain), fisik jalan yang baik, rambu cukup jelas, penerangan jalan, parking area dan lainnya. Dan tak kalah penting pengamanan wilayah (premanisme, pedagang asong di obyek wisata, pengamen, pengemis).
Kemudahan mengunjungi objek wisata harus dijaga dengan baik. Hal ini membutuhkan penanganan multipihak sehingga menimbulkan simbiosis mutualisme.
Akses menuju obyek merupakan salah satu dimensi yang menjadi perhatian wisatawan. Kualitas jalan umum maupun khusus serta transportasi adalah bagian dari produk wisata. Wisata berkualitas adalah perjalanan wisata yang nyaman, menyenangkan dan memperoleh pengalaman baru.
(Yudhi Koesworodjati, Dosen Tetap Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan dan Pemerhati Pariwisata).










